Lima Calon Anggota (CA) Divisi Konservasi Mahasiswa Pecinta Alam “Wanaprasta Dharma” Universitas Udayana (Mapala “WD” Unud) Gede Pajar Galang Nadi Adnyana (CA-2442017), Ni Luh Putu Wahyu Ningsih (CA-2442014), Atifa Zara Ardita (CA-2442015), Ni Made Heni Artini (CA-2442018), dan I Gede Wikananda Baruna (CA-2442019) menjalani Masa Bimbingan (Mabim) sebagai tahap wajib sebelum resmi menjadi anggota. Dalam kegiatan Mini Tryout yang merupakan bagian dari Mabim, CA memilih herping sebagai praktik lapangan yang sesuai dengan Divisi Konservasi. Kegiatan ini dipandu oleh instruktur Ni Putu Suci Paramita (WD-2239770) serta didampingi oleh Ni Kadek Dewi Dwi Payani (WD-2441806) dan I Made Yohan Dwi Pramana (WD-2441813).

Sebagai CA divisi konservasi, CA memahami pentingnya pelestarian dan perlindungan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Pencemaran lingkungan memiliki dampak serius terhadap kelangsungan ekosistem. Berdasarkan penelitian Kusuma et al. (2020), reptil dapat digunakan sebagai bioindikator untuk mendeteksi kerusakan ekosistem. Oleh karena itu, CA melaksanakan kegiatan herping sebagai langkah awal untuk mengumpulkan data dan menilai tingkat pencemaran di suatu lokasi. Desa Canggu, yang terletak di Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, dikenal dengan pantainya yang indah, lokasi selancar, dan pusat perbelanjaan yang populer di kalangan wisatawan. Namun, kemajuan pariwisata telah mengubah fungsi wilayah ini dari lahan pertanian menjadi kawasan hotel dan pusat perbelanjaan. Selain itu, CA menemukan pencemaran lingkungan berupa limbah dan sampah yang tersebar sembarangan. Perubahan ini berdampak signifikan pada habitat flora dan fauna setempat, sehingga CA memutuskan untuk melakukan kegiatan herping di desa ini. Kegiatan herping dilaksanakan selama tiga hari, mulai dari Senin, 20 Januari hingga Rabu, 22 Januari 2025. Selain herping, pada hari terakhir, CA juga melakukan kegiatan bersih-bersih sebagai upaya mengurangi pencemaran lingkungan. Kegiatan ini dilakukan di dua lokasi berbeda, dengan koordinat lokasi pertama 8°38'17.1" LS dan 115°08'57.6" BT, serta lokasi kedua di 8°38'27" LS dan 115°7'59" BT. CA melakukan herping selama tiga jam, dari pukul 17.00 hingga 20.00 WITA di masing-masing lokasi, dan kegiatan bersih-bersih berlangsung selama satu jam, dari pukul 08.00 hingga 09.00 WITA pada lokasi kedua.
Dalam penelitian yang dilakukan dari Senin, 20 Januari hingga Selasa, 21 Januari 2025, CA menemukan beberapa jenis reptil pada kawasan tersebut. Pada hari pertama, Senin, 20 Januari, CA melakukan penelitian pada malam hari dengan kelembaban 96% dan suhu 26°C, CA menemukan seekor anak ular ular hijau ekor merah (Trimeresurus insularis), seekor tokek (Gekko gecko), seekor ular pucuk (Ahaetulla prasina), seekor cicak (Hemidactylus), serta tiga kalajengking kulit kayu kerdil (Euscorpius carpathicus). Pada hari kedua, Selasa, 21 Januari, CA dengan kelembaban 85% dan suhu 28°C, CA menemukan seekor Ular bajing (Gonyosoma oxycephalum), seekor Ular tali picis (Dendrelaphis pictus), seekor kodok (Bufo melanostictus), seekor katak (Leucomystax), seekor kadal coklat Hindia (Calotes versicolor), dan seekor cicak (Hemidactylus). Pada hari terakhir, Rabu, 22 Januari, CA mengakhiri penelitian dengan kegiatan bersih-bersih.
Berdasarkan hasil pengamatan selama dua hari, CA hanya menemukan sedikit jenis reptil, dan mayoritas yang ditemukan merupakan reptil arboreal atau yang hidup di atas pohon. CA tidak menemukan reptil yang berhabitat di tanah, seperti ular kobra (Naja sputatrix) maupun ular serigala (Lycodon sidiki), yang menjadi salah satu spesies endemik di Bali. Hal ini menandakan bahwa lingkungan di lokasi penelitian sudah tidak mendukung keberlangsungan hidup reptil-reptil tersebut. Temuan lain berupa banyaknya sampah plastik di area penelitian semakin memperkuat bukti bahwa habitat reptil di kawasan tersebut telah tercemar. Jika kondisi ini terus dibiarkan, kepunahan spesies reptil di kawasan tersebut bukan lagi sekadar ancaman, melainkan realitas yang dapat terjadi, membawa dampak besar terhadap keseimbangan ekosistem lingkungan. peserta berharap agar masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan, karena satu sampah yang kita hasilkan dapat menjadi racun yang merusak ekosistem secara luas.