Langit di Ujung Barat Pulai Bali yang cerah tak berawan pada Selasa, 26/5/2020 akan menjadi waktu yang pas bagi Gek Mita (6), Bagus (7) dan Intan (8) untuk belajar di sekolah. Sayangnya mereka terpaksa berdiam diri di rumah untuk menekan laju penyebaran Covid-19. Rasa jenuh sudah pasti menghantui. Namun, rasa jenuh itu sedikit terobati dengan kedatangan salah satu anggota STT Desa Adat Melaya Ayu Ari (20), yang bersedia mengisi waktu luang mereka dengan mengajak bercerita, menggambar, dan belajar.

Meski sudah tak lagi pergi ke sekolah, semangat belajar mereka tak pernah tumbang. Ketiga anak ini nampak serius mendengarkan Ayu Ari yang menceritakan tentang betapa bahayanya Covid-19 jika tak dicegah sejak dini. Ayu Ari juga mengajak mereka menuangkan perasaan mereka melalui gambar dan tulisan, serta riang gembira melalui permainan untuk melepas jenuh mereka. Tak lupa, Ayu Ari mengajarkan mereka tata cara mencuci tangan yang baik dan mengingatkan untuk selalu menggunakan masker setiap pergi ke luar rumah.

Dukungan Psikososial Untuk Anak di Tengah Pandemi Covid-19


Berdasarkan Buku Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikosoial, anak-anak rentan merasa jenuh, stres, bahkan tertekan akibat adanya perubahan kebiasaan secara signifikan dikarenakan adanya larangan beraktivitas di luar rumah dan berkumpul dengan teman-teman sebaya. Namun, seringkali kondisi psikologis anak ini luput dari perhatian.  “Kegiatan covid hampir seluruh satgas itu nyasarnya memberikan bantuan sembako, bantuan tunai, dan bantuan lain seperti spraying, ngurusin PMI (Pekerja Migran Indonesia). Saya melihat itu lebih mengarah ke orang-orang dewasa meskipun impact secara tidak langsungnya itu ke anak-anak, tapi fokusnya lebih cenderung memberikan ke orang dewasa. Sementara aspek yang tidak disentuh itu adalah aspek anak-anak,” ujar Gusti Ngurah Arya Bayu Permadi (26) selaku anggota Satgas Covid-19 Desa Adat Melaya sekaligus penggagas program Psikososial bagi anak-anak di lingkungan Desa Adat Melaya. Kegiatan ini pun akhirnya tercetus sebagai bentuk kepedulian desa adat terhadap kondisi psikologis anak-anak di masa pandemi.

“Psikososial disini juga lebih ke arah memberikan dukungan, anak-anak itu biasanya ngapain sih. Sekarang (kebiasaan anak-anak) berubah, makanya kita kasih lagi trigger buat mereka, kasih lagi support, meski di tengah masa pandemi ayo kita kasih mereka semangat biar bisa bertahan. Jadi kita berikan lagi mereka kebiasaan-kebiasaan yang mereka dapat dari luar, seperti mengobrol, bermain, dan mendongeng,” jelas pria yang akrab disapa Bayu tersebut. Dukungan psikososial ini diberikan melalui kegiatan-kegiatan interaktif,  seperti mendongeng, bermain, dan menggambar.   Setiap kegiatan yang dipilih program ini pun disisipkan pesan-pesan tentang pencegahan Covid-19 seperti berdiam di rumah, menggunakan masker, dan mencuci tangan.

Bayu menambahkan, ia dan pihaknya telah bertanya pada sejumlah anak, dan rata-rata anak-anak mengaku merasa jenuh selama berada di rumah. “Hasil menyebutkan,  ada anak-anak yang suka ada anak-anak yang gak suka (diam di rumah). Sekarang di kedua hasil ini mengkerucut pada hal yang sama: jenuh,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan ucapan Bagus yang mengaku bahwa dirinya lebih suka belajar di sekolah daripada di rumah, selain karena jenuh, ia merasa lebih mudah memahami pembelajaran di sekolah. “Lebih mengerti diajar Pak Guru daripada Ajik,” ujar Bagus yang masih duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Intan pun mengatakan hal serupa. “Lebih enak belajar di sekolah, soalnya di rumah gak ada meja. Katanya mau dibeliin (sama Bapak) tapi gak dibeli-beliin,” ujar Intan yang masih duduk di bangku kelas 2 SD tersebut.

Menurut Bayu, Bagi anak-anak yang dikontrol dan tertib diam di rumah, meski telah dibekali oleh gadget mereka tetap akan merasa jenuh, sebab ada perubahan drastis terhadap pola kebiasaannya. Sementara, bagi anak-anak yang tidak dikontrol oleh orangtuanya, mereka dapat pergi bermain keluar rumah, dan rentan terpapar oleh Covid-19. “Jadi karena dia sering keluar jadi susah dikontrol dia mainannya ke mana, dia susah dikontrol pegang-pegang apa, pulangnya itu tidak mungkin dong mereka kaya disiplin banget namanya juga anak-anak,” Bayu menjelaskan.

Kader Anak Tangguh Covid-19

Anak-anak Desa Adat Melaya pun sangat antusias dalam menyambut program yang disalurkan oleh muda-mudi banjar ini. “Sebenarnya kalau kita punya buku lebih bakal lebih banyak lagi kita bisa mengundang kan. Kemarin kan kita agak dilematis disatu sisi kalau kita bener-bener open banget, kaya ke rumah-rumah terus satu-satu kita gak ada, budget—nya gak sampai segitu, ini kita cuma nyasar beberapa rumah aja, nah kaya kemarin pas kita kunjungan ke salah satu rumah ternyata ada temannya ya mereka antusias banget, syukurnya sih masih bisa ter—cover,” kata Bayu. Program ini menggunakan buku khusus yang disuplai oleh Bali Institut Denpasar, namun karena terbatasnya dana dari desa adat, kegiatan ini belum dapat menyentuh seluruh anak yang ada di Desa Adat Melaya.

Menyiasati hal ini, Bayu pun menyasarkan program ini pada 250 anak dari 500 jumlah keseluruhan anak di Desa Adat Melaya. Program ini diutamakan untuk anak-anak tertentu seperti anak yang kurang taat untuk berada di rumah. “Nah untuk menentukan masing-masing siapa yang dikasih, masing-masing banjar yang nentuin jadi mana nih rumah yang banyak anak-anaknya, yang memang dilihat suka ngelaleng, ya itu yang kita sasar. Yang suka ngelaleng  kita sasar diharapkan biar anak-anaknya ngerti mereka gak boleh mainan keluar-keluar lagi, kalaupun mereka mainan yang jelas pulang-pulang harus cuci tangan. Kita kaya buat komitmen sama mereka, kita kontrolnya lewat STT, STT kontrolnya lewat orang-orang tua masing-masing,” terang Bayu. Anak-anak yang antusias akan kegiatan ini akan terus dibimbing dan disiapkan untuk menjadi kader Anak Tangguh Covid-19, agar dapat menyebarluaskan pengetahuan mereka pada keluarga dan teman-teman sebaya.

Program ini telah dimulai sejak 23 Mei 2020, melibatkan Sekhaa Teruna Teruni (STT) Desa Adat Melaya selaku petugas kunjungan rumah-rumah yang telah ditentukan. Sebelum menjalankan tugas, dua anggota STT yang dipilih dari masing-masing banjar dilatih oleh Duta Anak Kesehatan Provinsi Bali, Yayasan Widya Suara, dan Jegeg Bagus Jembrana terkait cara menyampaikan informasi ala anak-anak serta cara cuci tangan yang baik dan benar. Hingga saat ini program psikososial Satgas Covid-19 Desa Adat Melaya sudah menyentuh 100 anak di lingkungan Desa Adat Melaya. “Untuk program ini tidak ada (dana dari pemerintah) karena balik lagi program dana dari pemerintah (desa) sudah habis, laporannya kaya gitu. Jadi kita juga agak sungkan kalau minta, karena pemerintah (desa) juga kemarin sudah sibuk ngurusin BLT dan lain sebagainya, bantuan pangan dan bantuan tunai langsung di sana alokasinya,” ungkap Bayu. Pihak desa adat sedang merencanakan penggalangan dana untuk menyetak buku-buku yang dibutuhkan.

Orang Tua Juga Butuh Dukungan

Ketut Reniawani (35) selaku orang tua dari Gek Mita mengaku semenjak anaknya belajar di rumah, dirinya menjadi merangkap pekerjaan selain menjadi Ibu juga menjadi guru bagi anaknya. “Pagi-pagi habis masak langsung ngajarin anak,” kata Ketut Reni. Ia pun merasa sangat terbantu oleh adanya kegiatan ini. “Kalau saya lihat kegiatan ini positif, anaknya bisa langsung diajarin, kakaknya lebih (mampu) mengguru, lebih seneng dia daripada ibunya, mungkin cerewet,” ujarnya sembari tertawa kecil. Ia menambahkan,

Di sisi lain, Nancy Tyas (33) selaku orang tua salah satu anak di Desa Adat Melaya mengeluhkan kegiatan anak belajar dari rumah membuat orang tua terkesan beralih profesi. “Orang tua dituntut untuk menguasai semua materi pelajaran, boros kuota, paling parah rebutan hp, kalau cuma satu anak tidak masalah, saya ada tiga anak,” ujarnya. Ia juga menambahkan, bahkan ada seorang ibu yang sampai mengambil pinjaman demi membelikan android bagi sang anak. Menurut Nancy Tyas, sistem pendidikan online di desa belum siap selain karena faktor ekonomi juga karena terkendala sinyal. Ia pun berharap mendapat dukungan baik dari aspek ekonomi, maupun aspek psikologis seperti pengetahuan tentang mengajar anak di rumah, apabila pembelajaran online ini terus dilakukan.

 

Penulis: Murni Oktaviani